Merevitalisasi
bisnis keluarga yang sudah dijalankan secara turun-temurun dari
generasi ke generasi bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi, diperlukan
kemampuan untuk mempertahankan nilai dan prinsip bisnis, karisma sang
pendiri serta jati diri merek yang ada. Akan tetapi di sisi lain, juga
harus dilakukan sebuah upaya pembaharuan yang membuat bisnis tersebut
beserta semua aspeknya menjadi lebih relevan dengan perkembangan jaman
dan karakter pasar.
Itulah yang
dicoba dilakukan oleh sejumlah anak muda dari Universitas Ciputra
Surabaya , Jatim. Dengan dibimbing oleh Eric Yosua sebagai dosen jurusan
Fakultas International Hospitality Tourism Business UC, sekelompok
mahasiswa mencoba mempraktikkan ilmu kewirausahaan yang mereka peroleh
di kelas ke dinamika bisnis yang nyata.
Berawal dari
mata kuliah “Selling Skill” atau Ketrampilan Menjual, para mahasiswa
tingkat pertama UC diminta untuk memilih vendor-vendor mitra UC. Vendor
mitra yang dipilih mahasiswa wajib memberikan pengetahuan terkait dengan
bahan baku produksi, product knowledge dan bagaimana cara membujuk
calon pembeli. “Ibaratnya mahasiswa menjadi staff dari vendor tersebut,
jadi mahasiswa berhak tahu terkait produk dan perusahaan,” ujar Eric.
Menurut Eric,
Trasisan merupakan salah satu vendor mitra UC. “Saya mengajarkan
bagaimana cara memasarkan Trasisan dan memberikan berbagai bonus untuk 5
penjualan terbaik dengan hadiah uang tunai Rp 1.500.000. Hasilnya
mahasiswa kami bisa menjual antara 40-48 kg dalam waktu 6 minggu,”
jelasnya.
Terasi Trasisan adalah perusahaan lokal penghasil terasi berkualitas dengan bahan baku rebon murni yang berasal dari Tuban.
Trasisan merupakan hasil upaya rebranding
yang telah dimulai pada Oktober 2011. Dengan mengangkat bendera CV.
Tikosu Internasional, Trasisan diperkenalkan di Surabaya Plaza Hotel
pada November 2011. Trasisan pada tahun 1948 pada mulanya dikenal
masyarakat dengan nama terasi "Honglam" di kota Tuban,
Solo, Semarang, Cirebon, Surabaya, dan sekitarnya. Namun, karena
generasi berikutnya kurang meminati usaha jenis ini, terasi Honglam
mulai hilang dari pasar. Singkat cerita, setelah mengalami pasang surut
akhirnya tahun 1995 terasi Honglam muncul dengan mengubah nama menjadi
terasi “Marem”. Karena metode yang dipakai masih usang, akhirnya produk
terasi Marem tak begitu melejit. Hingga tahun 2008, generasi yang lebih
muda mengangkat produk ini kembali dan mengemasnya sebagai terasi “Mama
Tjin” yang mulai terkenal di media online dan bulan Oktober 2011 menjadi
saksi berubahnya terasi “Mama Tjin” menjadi “Trasisan”.
Dengan
penggunaan nama Trasisan itu, beberapa perubahan manajemen dilakukan
untuk memodernisasi bisnis seperti meningkatkan kapasitas produksi tanpa
mempengaruhi kualitas rasa. Dengan mengusung konsep sehat tanpa bahan
pengawet dan tanpa pewarna buatan, terasi “Trasisan” ini diharapkan
mampu kembali merebut pasar.
Para mahasiswa
pun ditugasi untuk memilih pasar yang potensial, mempersiapkan
presentasi produk terasi dan sebagainya. “Tak cuma itu, mereka juga
harus mengeksekusi bisnis itu,” Eric menjelaskan. Dan mereka akhirnya
sukses mencatatkan angka penjualan 300 kg terasi dalam waktu 7 minggu ke
beberapa kota di tanah air.(*AP)



0 komentar:
Posting Komentar